Osteoporosis adalah keadaan yang menyebabkan tulang menjadi lemah dan rapuh sekali gus meningkatkan risiko patah tulang. Walaupun keadaan ini boleh menjejaskan lelaki dan wanita, wanita pascamenopaus berdepan risiko yang lebih tinggi akibat penurunan estrogen yang cepat, iaitu hormon yang penting untuk ketumpatan tulang.
Menopaus menandakan berakhirnya kitaran haid seseorang wanita dan lazimnya berlaku antara usia 45 hingga 55 tahun. Salah satu kesan paling ketara ialah penurunan estrogen yang memainkan peranan penting dalam mengekalkan kekuatan tulang (Peacock & Ketvertis, 2023).
Estrogen membantu mengawal kitaran semula jadi pembentukan dan penguraian tulang. Selepas menopaus, penurunannya mempercepatkan kadar kehilangan tisu tulang.
Resorpsi tulang, iaitu penguraian tisu tulang, menjadi lebih aktif berbanding pembentukan tulang sekali gus mengurangkan ketumpatan dan kekuatan tulang.
Dalam tempoh lima hingga tujuh tahun pertama selepas menopaus, wanita boleh kehilangan sehingga 20% jisim tulang menjadikannya tempoh penting untuk intervensi.
Tulang yang lemah lebih mudah mengalami patah, terutamanya pada pinggul, tulang belakang dan pergelangan tangan. Jatuh atau hentakan kecil boleh menyebabkan kecederaan serius.
Osteoporosis sering disebut sebagai “penyakit senyap” karena pengeroposan tulang terjadi tanpa tanda yang jelas hingga patah tulang terjadi. Perempuan yang telah memasuki masa menopause menghadapi risiko yang meningkat akibat perubahan hormon.
Perempuan yang mengalami menopause sebelum usia 45 tahun memiliki durasi paparan estrogen yang rendah lebih lama, sehingga meningkatkan risiko osteoporosis.
Ooforektomi—pengangkatan ovarium—menyebabkan penurunan hormon yang mendadak, sehingga meningkatkan risiko secara langsung.
Perempuan yang memiliki kepadatan tulang lebih rendah saat muda lebih rentan terhadap pengeroposan tulang yang cepat selama menopause.
Riwayat keluarga dengan osteoporosis atau patah tulang pinggul meningkatkan risiko lebih tinggi ketika dikombinasikan dengan perubahan hormon.
Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, dan gaya hidup sedentari memperburuk dampak menopause terhadap kepadatan tulang.
Walaupun perempuan yang sudah mengalami menopause memang memiliki risiko osteoporosis yang meningkat, tetapi beberapa faktor lain turut berkontribusi terhadap perkembangan osteoporosis di berbagai kelompok demografis (National Institute of Aging, 2022).
Perempuan memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami osteoporosis dibandingkan laki-laki karena struktur tulang yang lebih kecil dan perubahan hormon.
Kepadatan tulang menurun seiring bertambahnya usia, tetapi penurunannya lebih nyata pada mereka yang berusia di atas 65 tahun.
Perempuan Kaukasia dan Asia memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan kelompok etnis lain, kemungkinan karena perbedaan genetik dan struktur tubuh.
Indeks massa tubuh (body mass index/BMI) yang rendah berkaitan dengan massa tulang yang lebih rendah dan tingkat kerapuhan yang lebih tinggi.
Asupan kalsium, vitamin D, dan protein yang tidak memadai dalam pola makan melemahkan tulang seiring waktu.
Penyakit autoimun seperti artritis reumatoid, ketidakseimbangan tiroid, dan beberapa gangguan gastrointestinal dapat mempercepat pengeroposan tulang.
Penggunaan kortikosteroid dan obat antikejang dalam jangka panjang dapat mengganggu regenerasi tulang.
Skrining rutin untuk kelompok berisiko membantu mencegah komplikasi. Di Gleneagles Hospitals, kami menyediakan alat diagnostik terarah untuk menilai risiko osteoporosis Anda dengan tepat.
Walaupun osteoporosis tidak dapat dipulihkan sepenuhnya, tetapi ada beberapa langkah yang dapat memperkuat tulang dan menurunkan risiko patah tulang. Hasil yang efektif dari intervensi ini diperoleh melalui penerapan dini.
Pastikan asupan kalsium yang cukup melalui produk susu, sayuran berdaun hijau, almond, dan makanan yang diperkaya. Perempuan dewasa sebaiknya menargetkan asupan 1.000 hingga 1.200 mg tiap hari.
Vitamin D penting untuk penyerapan kalsium. Paparan sinar matahari yang aman dan suplemen dapat membantu menjaga kadar optimal.
Aktivitas fisik seperti berjalan, mendaki, dan latihan kekuatan membantu merangsang pembentukan tulang dan mempertahankan kepadatan.
Berhenti merokok dapat memperlambat pengeroposan tulang dan meningkatkan hasil kesehatan secara umum.
Batasi konsumsi alkohol hingga satu minuman per hari atau kurang untuk mengurangi dampak negatif pada kesehatan tulang.
Bifosfonat, terapi penggantian hormon, dan modulator reseptor estrogen selektif adalah penanganan umum yang direkomendasikan dan diresepkan oleh dokter.
Menyesuaikan lingkungan rumah, memakai alas kaki yang tepat, dan meningkatkan keseimbangan dapat menurunkan risiko cedera akibat jatuh.
Ya, pemindaian kepadatan tulang seperti DEXA dapat mendeteksi osteoporosis dan osteopenia (pengeroposan tulang ringan) sebelum patah tulang terjadi.
Terapi penggantian hormon dapat membantu mempertahankan kepadatan tulang, terutama pada perempuan menopause yang lebih muda, tetapi harus dinilai secara individual karena adanya kemungkinan risiko.
Kebanyakan orang tidak menunjukkan tanda apa pun hingga mengalami patah tulang. Beberapa orang dapat mengalami penurunan tinggi badan atau postur membungkuk seiring waktu.
Osteoporosis tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, tetapi dapat dikelola secara efektif dengan obat, penyesuaian gaya hidup, dan pemantauan rutin.
BKepadatan tulang biasanya menurun dengan cepat dalam 5 hingga 7 tahun pertama setelah menopause, sehingga langkah pencegahan awal sangat penting.
Hubungan antara menopause dan osteoporosis memang sudah jelas, tetapi sering tidak terdeteksi hingga terjadi patah tulang yang parah. Ketika perempuan memasuki masa menopause, kesehatan tulang harus menjadi prioritas utama. Peran protektif estrogen dalam pembentukan tulang berkurang dengan cepat pada fase ini, sehingga meningkatkan risiko osteoporosis dan komplikasi terkait lainnya.
Jangan tunda lagi—buat janji temu Anda hari ini dan mulailah perjalanan menuju kesehatan yang lebih baik. Tim kami siap membantu di setiap langkah Anda. Anda juga bisa menjadwalkan janji temu melalui situs web kami atau mengunduh aplikasi My Health 360, yang bisa diperoleh di Google Play Store.
LeBoff, M. S., Greenspan, S. L., Insogna, K. L., Lewiecki, E. M., Saag, K. G., Singer, A. J., & Siris, E. S. (2022). The clinician’s guide to prevention and treatment of osteoporosis. Osteoporosis International, 33(10), 2049–2102. https://doi.org/10.1007/s00198-021-05900-y
Keen, M. U., & Reddivari, A. K. R. (2023, June 12). Osteoporosis In Females. PubMed; StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559156/
Peacock, K., & Ketvertis, K. M. (2023). Menopause. National Library of Medicine; StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK507826/
Wait a minute